Pages

Rabu, 23 Desember 2015

Kacamata 3D, Prinsip Polarisasi




Gambar atau video tiga dimensi (3D) saat ini sudah tidak asing lagi bagi kita. Gambar Ketika menonton film atau video tiga dimensi di bioskop kita akan diberikan kacamata khusus, yaitu kacamata tiga dimensi. Saat ini foto atau video tiga dimensi dapat dengan mudah kita dapatkan melalui internet. Foto atau video tiga dimensi akan terlihat buram atau tidak jelas jika langsung dilihat dengan mata biasa. Sehingga dibutuhkan alat bantu untuk melihat foto atau video 3D yaitu kacamata 3D. Kacamata 3D akan memberikan efek kedalaman sehingga gambar atau video yang kita lihat akan terasa nyata.
Prinsip yang digunakan dalam kacamata 3D ternyata merupakan penerapan dari Fisika, yaitu Polarisasi.  Ada beberapa tipe Polarisasi. Tipe polarisasi yang digunakan dalam kacamata 3D adalah Polarisasi  karena absorbsi selektif. 

Satu sifat gelombang yang hanya dapat terjadi pada gelombang transversal, yaitu polarisasi. Jadi, polarisasi gelombang tidak dapat terjadi pada gelombang longitudinal, misalnya pada gelombang bunyi.
Fenomena polarisasi cahaya ditemukan oleh Erasmus Bhartolinus pada tahun 1969. Dalam fenomena polarisasi cahaya, cahaya alami yang getarannya ke segala arah tetapi tegak lurus terhadap arah merambatnya (gelombang transversal) ketika melewati filter polarisasi, getaran horizontal diserap sedang getaran vertikal diserap sebagian. Cahaya alami yang getarannya ke segala arah disebut cahaya tak terpolarisasi, sedangkan cahaya yang melewati polaroid hanya memiliki getaran pada satu arah saja, yaitu arah vertikal yang disebut cahaya terpolarisasi linear.
Ide polarisasi gelombang dengan mudah dapat kita pahami dengan memperhatikan secara seksama suatu gelombang transversal pada tali ketika melewati sebuah celah. Dari penjelasan sebelumnya dapat kita nyatakan bahwa suatu gelombang terpolarisasi linear bila getaran dari gelombang tersebut selalu terjadi dalam satu arah saja. Arah ini disebut arah polarisasi

 Gejala polarisasi dapat kita lihat pada gelombang yang terjadi pada tali yang dilewatkan di celah. Apabila tali kita getarkan searah dengan celah, maka gelombang yang akan terjadi dapat melewati celah tersebut. Sebaliknya, jika kita getakan tali tersebut dengan acar tegak lurus terhadap celah maka yang akan terjadi, gelombang yang tercipta tidak akan dapat melewati celah.

Selektif Polaroid adalah suatu bahan yang dapat menyerap arah bidang getar gelombang cahaya dan hanya melewatkan salah satu bidang getar. Seberkas sinar yang telah melewati polaroid hanya akan memiliki satu bidang getar saja sehingga sinar yang telah melewati polaroid adalah sinar yang terpolarisasi.
Peristiwa polarisasi ini disebut polarisasi karena absorbsi selektif. Polaroid banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain untuk pelindung pada kacamata dari sinar matahari (kacamata sun glasses) dan polaroid untuk kamera. Prinsip polarisasi karena absorbsi selektif ini juga digunakan dalam kacamata 3D

Gambar tiga dimensi (3D) jika dilihat langsung akan terlihat tidak jelas atau buram sebab terlihat ada dua warna atau tampak bayangan. Saat digunakan kacamata 3D untuk mengamati, gambar terlihat jelas dan tampak nyata.  Kita dapat membuat kacamata 3D sederhana hanya dengan bahan-bahan yang mudah ditemui di sekitar kita.
Kacamata 3D sederhana dibuat menggunakan karton untuk kerangka dan mika yang berbeda warna untuk masing-masing lensa. Warna mika yang digunakan bergantung pada warna yang terdapat pada gambar 3D. Pada dua gambar 3D yang terdapat dalam artikel ini akan terlihat jelas dan nyata saat digunakan mika warna merah di bagian kiri dan warna hijau di bagian kanan. Hal ini dikarenakan warna bayangan yang ada pada gambar adalah merah dan hijau.

Masing-masing lensa pada kacamata 3D akan memfilter masing-masing warna pada gambar tiga dimensi. Ketika kacamata 3D dengan lensa (mika) hijau dan merah digunakan, bayangan merah akan terlihat oleh lensa hijau sebab lensa hijau menyerap warna hijau dan bayangan hijau akan terlihat oleh lensa merah sebab warna merah diserap oleh lensa merah.  Dengan demikian masing-masing mata melihat dengan cara yang berbeda. Jadi kacamata tiga dimensi ini berfungsi untuk memisahkan gambar berdasarkan warna sehingga gambar terlihat jelas dan nyata. Hal ini sama halnya dengan prinsip dari polarisasi.
Kita tahu bahwa cahaya bergerak ke segala arah. Polarisasi akan menyebabkan cahaya hanya bergerak ke salah satu arah saja. Agar terpolarisasi, cahaya itu di lewatkan melalui polarisator cahayaPolarisator/filter ini di pasang pada lensa kacamata. Supaya mata kiri dan mata kanan melihat benda dari sisi yang berbeda.

Sumber:



0 komentar:

Posting Komentar